Akhirnya kami berpisah. Yuda dengan mobilnya sendiri. Aku
dengan mobilku sendiri, Sita menumpang di mobil Diaz. Rumah mereka memang
dekat. Sesampainya di rumah aku mendapati rumah masih hanya berisikan mbak ina,
pembantu di rumah ini. Mama belum datang. Papa? Ah sudahlah aku faham beliau
sangat sibuk. Aku masuk kedalam kamarku dan mendapati kasurku penuh dengan
kelopak bunga mawar. Di tengah kasurku terdapat secarik kertas yang bertuliskan
“ikuti kata hatimu. Dan pergilah ke
balkon sekarangJ”. Aku segera
beranjak menuju balkon. Disana aku melihat Diaz sudah berdiri sambil membawa
kertas berukuran besar bertuliskan “MAUKAH
KAU JADI KEKASIHKU? J” air mataku
seketika menetes mana kala aku membaca tulisan tersebut. Aku tak mampu berkata
apapun lagi. Tangisku pecah dan air mataku menetes deras. “lihatlah
dibelakangmu Ken!” teriak Diaz dari bawah. Aku segera berbalik dan mendapati Yuda
dan Sita tengah membawa kue tart berbentuk mawar. Aku memang penyuka mawar.
Rose addict. “jawab pertanyaanku Ken. Jika kau menerima ku aku akan pergi
keatas sana, apabila kau menolakku aku akan pulang” teriaknya lembut. “dia yang
membuat ini semua Ken, kalau aku jadi kamu aku akan menerimanya.” Tutur Sita.
Aku menangkap sorot mata sedih dari mata Sita. Mungkin ini maksud dari tulisan
di tempat tidurku tadi. Aku harus ikuti kata hatiku. Aku tatap Diaz dan berkata
“masuklah Diaz” pelan sekali saat aku mengatakannya. Diaz tersenyum lalu segera
masuk dan menghampiri kami. Aku nggak akan inget hari ini ulang tahunku kalo
bukan karena mereka. Memang ulang tahun ku hanya berselang 6 hari sebelum Sita
berulang tahun pula
***
Selamat pagi… kantukku masih memburu, ku lihat handphoneku
yang sedang berdering. Nama Diaz tertera di layar handphoneku. Segera kuangkat
dan terdengar sapaan hangat dari sana. “hai sayang. Pasti bangun tidur ya? haha
dasar kebo. Nggak kayak aku sudah wangi sudah sarapan sudah ganteng. Kamu pasti
masih di tempat tidur kan? Iya kan? Ah sudah ku duga. Hehe jawab dong sayang
jangan diem aja” katanya panjang lebar. Dia menyebalkan sekali hampir saja aku
tertidur lagi karna sapaannya yang terlalu panjang dan tidak memberiku
kesempatan untuk menjawab. “sudah nih ngomongnya?” sejenak aku mendengar tawa
nya diseberang sana “hai juga sayang. Iya aku baru bangun tidur. Iya aku tau
kamu pacaran sama kebo. Iya aku masih di tempat tidur. Iya aku tau dugaan mu
tepat. Diem aja gimana? Kamu kasih kesempatan aja enggak buat ngomong. Ish
menyebalkan!” jawabku ketus namun lembut. “ish jawabnya judes banget ah haha.
Duhh jangan ngambek dong sayang. Utuk utuk utuk. Mihihi. Keluar ke balkon gih
cepetan!” katanya. “ha ngapain?” meskipun kaget aku tetap berjalan menuju
balkon. Pemandangan selanjutnya yang aku lihat adalah. Diaz sedang berdiri di
samping mobilnya sambil membawa bunga mawar di tangan kirinya dan handphone nya
di tangan kanan. Dan penampilannya keren banget. Sejenak aku tersadar bahwa
sambungan telfon masih belum terputus “Happy Anniversary sayang. Inget kan?
Hari ini hubungan kita umurnya udah setahun. Selamat ulang tahun juga sayang.
Best wishes for you” tuturnya lembut sekali. Suaranya tegas nggak seperti waktu
pertama menghubungiku tadi. Senyumnya buat aku meleleh. “sayang jalan yuk!
Jangan gitu ah kalo ngeliatin. Aku tau aku ganteng dan kamu terpesona tapi
biasa aja ah!” sambungnya membuatku terkejut karna suranya balik seperti awal.
Dia kepedean sekali. “sayang kamu kegeeran deh haha. Jalan kemana? Aku belum
mandi” jawabku. “yaudah sana cepet mandi. Aku tungguin. Apa sekalian aku
mandiin nih?” jawabnya. “ngaco kamu haha yaudah mandi dulu yaaaa” jawabku.
Sedetik kemudian sambungan terputus.
Kini aku telah berada di dalam mobil Diaz. Kali ini aku
memakai kaos tanpa lengan berwarna hijau dan jeans panjang. Entah aku sendiri
tak tau mau dibawa kemana oleh Diaz. “kemana sih? Nggak suka ah kalo
dirahasiain gini.” Kataku memulai. “kepo ah. Yang penting kamu kan duduk manis
nggak perlu nyetir haha” jawabnya sambil memeletkan lidahnya. Seketika aku
cemberut. Diaz bener bener ngebetein. Sepanjang jalan dia nggak ngasih
kejelasan. Rupanya dia menangkap perubahan mimik wajahku. “sayang, jangan
cemberut gitu dong.” Katanya mengawali percakapanku. Aku tidak menyahuti. Aku
justru mengarahkan wajahku menghadap ke jendela. Entahlah, aku jadi ingat masa
masa dulu. Rupanya luka itu masih membekas. Akhir akhir ini perasaanku berkata
Diaz masih menyayangi Sita, meskipun itu hanya sedikit. Sedikit demi sedikit
pula aku juga mulai melihat perubahan sikapnya. Dia jadi sering beralasan ketiduran.
Sms lupa di balas. Banyak. Alasan yang dia pakai banyak banget. “sayang, jangan
ngambek dong. Iya iya aku ngaku. Kita mau ke pantai sayang.” Ucapnya mengakui.
“hah pantai? Asik?” jawabku. Aku tidak sesemangat tadi sekarang. Pantainya
memang indah tapi hati aku lagi nggak indah. Seharian kami menghabiskan hari
jadi kita dan ulang tahunku disana.
***
“pagi sayaaaang” sapa Diaz saat aku tengah membaca novel
baruku di bangku ku. Kelas ini masih sepi. Hanya ada aku dan Diaz dikelas ini.
Aku memang tidak sekelas dengan Diaz. “Pagi” sapaku singkat. Entahlah firasatku
tidak enak pagi ini. “ish jawabnya singkat bener, udah nggak sayang nih?”
jawabnya. “lagi bete” jawabku sekadarnya. “maaf ya sayang aku semalem
ketiduran” katanya menyesal. Aku jadi teringat sms salah kirim nya Diaz. Ada
satu sms yang mungkin Diaz nggak maksud kirim ke aku tapi sepertinya malah
nyasar ke aku. Isinya Yaudah istirahat
ya. Sms itu malah bikin aku tambah kepikiran.
Pulang sekolah langit sudah menangis. Aku coba menghubungi
Diaz handphonenya mati terdapat satu pesan masuk. Dari Yuda. Ken bisa jemput Sita nggak? Sita dideket
parkiran kejebak hujan. Aku barusan mau jemput tapi hujan deres banget. Aku
nggak pikir panjang, aku tau, Yuda dan Diaz pun tau Sita bisa seketika sakit
kalo dia kehujanan. Akhirnya aku pergi sambil hujan hujanan demi jemput Sita.
Sampai disana aku berusaha supaya dia tidak kehujanan. Aku rela hujan hujanan
demi dia karna dia sudah aku anggap saudaraku sendiri. Sampai dikantin sekolah
Sita duduk disana sedangkan aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci rok ku yang
terkena air kotor saat aku berlari tadi. Aku benar benar basah kuyup. Untungnya
Sita tidak basah. Setibanya aku kembali, aku telah mendapati Sita duduk dengan
menggunakan jaket yang aku tidak asing, dan dengan seorang lelaki yang kini
sedang memeluknya. Ya lelaki tersebut adalah Diaz. Aku mencoba positif
thingking. “mungkin Diaz hanya tidak ingin Sita sakit” batinku. Saat aku hampir
mendekati mereka terdengar percakapan Sita dan Diaz. “sampai kapan Diaz? Mau
sampai kapan aku harus terus sabar? Aku sudah cukup sabar setahun ini demi
merelakan sahabatku bahagia” ucap Sita. “maafkan aku” jawab Diaz sambil
mempererat pelukannya. “apakah kamu akan meninggalkan Kenzia?” tanya Sita
sambil menatap mata Diaz. “secepatnya” Jawab Diaz setelah sebelumnya dia
menghela nafas panjang. Bagai tersambar petir saat aku mendengarkan jawaban
Diaz. Aku berpura pura tidak mendengar apa apa tadi aku hanya menganggap itu
lelucon untuk menghilangkan sepi. “Diaz? Sejak kapan kamu datang?” sapaku sayu.
Aku sudah merasakan badanku meriang karna kehujanan. Bukan hanya Sita saja
sebenarnya yang bisa sakit seketika jika dia kehujanan tapi aku pun sama dengan
Sita. Namun tidak ada yang mengetahui ini, sebisa mungkin aku selalu menahan
apabila kehujanan. “KAMU KEMANA AJA? HAH? JAWAB! SITA SAMPAI KETAKUTAN
SENDIRIAN GARA GARA HUJAN. NGGAK KASIHAN KAMU SAMA SITA?” Tanyanya dengan nada
membentak. Air mataku seketika jatuh. Benarkah? Benarkah Diaz membentakku
barusan? Dia lebih mementingkan Sita sahabat pacarnya daripada pacarnya sendiri.
“Mungkin percakapan tadi bukan lelucon tetapi sungguhan!” batinku menjerit. Aku
hanya bisa menunduk dan meneteskan air mata saat Diaz tak henti henti nya
memarahiku karna aku meninggalkan Sita sendirian. “SAHABAT MACAM APA KAMU! TEGA BIARIN SAHABATNYA
SENDIRIAN!” tuduhnya. “Kamu nggak ngerti Diaz” bela ku lemah. Saat itu Yuda
datang dengan basah kuyup pula. “sorry Sit aku tadi lama. Thanks Ken mau jemput
Sita sampai kamu basah kuyup gini” katanya polos. Sambil melelehkan air mata
dan badan yang semakin menggigil aku berucap lemah “nggak papa Yud” sebisa
mungkin aku tersenyum kepada Diaz dan Sita tanpa pikir panjang aku segera
berlari. Meskipun hujan aku tetap tidak peduli. Yuda mengejarku namun aku
berhasil lebih dulu memberhentikan taksi.
***
Ini sudah hari ketujuh aku absen untuk sekolah. Semenjak
kejadian itu aku terkena flu parah dan radang tenggorokan. Untungnya disekolah
sudah tidak ada belajar mengajar. Hanya tinggal perlombaan saja sambil menunggu
rapor selesai. Setelah ke dokter aku dinyatakan typhus. Dokter menyarankan aku
untuk istirahat total dirumah sakit. Tidak seorangpun aku ijinkan untuk
menjengukku kecuali keluargaku sekalipun orang itu adalah pacarku sendiri, Diaz.
Pacar? Masihkah aku bisa disebut pacarnya. Aku juga tidak memperbolehkan
keluargaku memberitahu dimana aku dan bagaimana keadaanku. Handphoneku terus
saja berbunyi tiap jam nya entah itu sms maupun telfon masuk. Semuanya dari
Yuda, Sita dan Diaz. Pesan masukku saja sudah puluhan, isinya pun sama dan dari
orang yang sama juga.
Hari ini pembagian rapor juga sekaligus aku sudah
diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Mama datang untuk mengambilnya. Memang
aku naik ke tingkat selanjutnya namun hal yang tidak ingin aku dengar adalah
bahwa aku satu kelas dengan Diaz dan Sita. Aku juga sekelas dengan Yuda. Setelah
semuanya selesai mama datang ke rumah sakit untuk menjemputku pulang. Rupanya
mama mengetahui masih ada seraut wajah sedih pada mukaku “sudah dong Ken
sedihnya. Mama khawatir sama kamu. Atau kamu mau pindah sekolah saja?”
penawaran mama cukup bagus untuk saat ini. Namun aku bukan tipe orang yang mau
bersusah susah berada dilingkungan baru dan harus beradaptasi mulai dari awal
lagi.
Liburan kenaikan kelas masih tersisa 2 minggu lagi, aku
sudah terjangkit penyakit kebosanan setengah mati pada hari kelima liburan ini.
Aku masih tidak mengizinkan siapapun datang. Handphone yang selalu aktif pun
kini tergeletak di meja belajarku. Aku sering mendapat cerita dari mbak Ina
bahwa kadang Diaz yang datang kerumah sendiri, kadang Yuda yang datang ke rumah
dengan Sita atau kadang ketiganya bebarengan langsung datang ke rumah. Terbesit
rasa bersalah pada Yuda. Bagaimanapun juga dia tidak bersalah. Akhirnya
kuputuskan untuk mengaktifkan handphoneku. Tidak beberapa lama handphoneku
bergetar, tertera nama Yuda disana. Aku pikir tidak ada salahnya untuk
mengangkat telfonnya. “halo” “halo Yud” “apa kabar Ken? Aku benar benar minta maaf soal kejadian satu
bulan yang lalu” “kabarku baik Yud. Sudahlah Yud aku nggak ingin mendengar itu”
ada hening sejenak setelah kalimat yang meluncur dari bibirku itu keluar. “aku
boleh main kerumah?” “asalkan kamu tidak mengajak mereka aku nggak keberatan”
“oke thanks Ken.” Aku tidak menyahuti dan langsung memutus sambungan.
Mbak Ina yang menyiapkan makan siangku mengetuk pintu
kamarku. “mbak, mas Yuda dateng. Kata mas Yuda, dia udah janjian sama mbak”
“iya mbak suruh tunggu di taman belakang aja bentar lagi aku turun” tidak ada
jawaban, Mbak Ina sudah turun pikirku. Bergegas aku turun kebawah dan menuju
bagian belakang rumah. “hai” sapaku canggung. Yuda hanya tersenyum. Aku duduk
di bangku taman, disebelah Yuda. “sorry for..” kalimat Yuda menggantung begitu
saja saat melihatku sudah meneteskan air mata lagi. “maafkan aku” sambung Yuda
sambil memelukku. Ini kehebatan Yuda, pelukannya semacam morfin buat aku,
pelukannya bisa bikin aku bener bener tenang. Tak ada kata kata lagi
setelahnya. Yuda menunggu selesai terisak. “maaf Yud kemeja mu jadi basah”
kataku sambil mengeringkan kemejanya dengan tisu setelah aku mulai tenang. Aku
melihat ekspresi Yuda yang heran namun sedetik kemudian berubah menjadi
senyuman manis. “kamu memang perempuan kuat”
***
to be continue...