Jumat, 04 Oktober 2013

Persahabatan VS Cinta bag.2

Akhirnya kami berpisah. Yuda dengan mobilnya sendiri. Aku dengan mobilku sendiri, Sita menumpang di mobil Diaz. Rumah mereka memang dekat. Sesampainya di rumah aku mendapati rumah masih hanya berisikan mbak ina, pembantu di rumah ini. Mama belum datang. Papa? Ah sudahlah aku faham beliau sangat sibuk. Aku masuk kedalam kamarku dan mendapati kasurku penuh dengan kelopak bunga mawar. Di tengah kasurku terdapat secarik kertas yang bertuliskan “ikuti kata hatimu. Dan pergilah ke balkon sekarangJ. Aku segera beranjak menuju balkon. Disana aku melihat Diaz sudah berdiri sambil membawa kertas berukuran besar bertuliskan “MAUKAH KAU JADI KEKASIHKU? Jair mataku seketika menetes mana kala aku membaca tulisan tersebut. Aku tak mampu berkata apapun lagi. Tangisku pecah dan air mataku menetes deras. “lihatlah dibelakangmu Ken!” teriak Diaz dari bawah. Aku segera berbalik dan mendapati Yuda dan Sita tengah membawa kue tart berbentuk mawar. Aku memang penyuka mawar. Rose addict. “jawab pertanyaanku Ken. Jika kau menerima ku aku akan pergi keatas sana, apabila kau menolakku aku akan pulang” teriaknya lembut. “dia yang membuat ini semua Ken, kalau aku jadi kamu aku akan menerimanya.” Tutur Sita. Aku menangkap sorot mata sedih dari mata Sita. Mungkin ini maksud dari tulisan di tempat tidurku tadi. Aku harus ikuti kata hatiku. Aku tatap Diaz dan berkata “masuklah Diaz” pelan sekali saat aku mengatakannya. Diaz tersenyum lalu segera masuk dan menghampiri kami. Aku nggak akan inget hari ini ulang tahunku kalo bukan karena mereka. Memang ulang tahun ku hanya berselang 6 hari sebelum Sita berulang tahun pula
***
Selamat pagi… kantukku masih memburu, ku lihat handphoneku yang sedang berdering. Nama Diaz tertera di layar handphoneku. Segera kuangkat dan terdengar sapaan hangat dari sana. “hai sayang. Pasti bangun tidur ya? haha dasar kebo. Nggak kayak aku sudah wangi sudah sarapan sudah ganteng. Kamu pasti masih di tempat tidur kan? Iya kan? Ah sudah ku duga. Hehe jawab dong sayang jangan diem aja” katanya panjang lebar. Dia menyebalkan sekali hampir saja aku tertidur lagi karna sapaannya yang terlalu panjang dan tidak memberiku kesempatan untuk menjawab. “sudah nih ngomongnya?” sejenak aku mendengar tawa nya diseberang sana “hai juga sayang. Iya aku baru bangun tidur. Iya aku tau kamu pacaran sama kebo. Iya aku masih di tempat tidur. Iya aku tau dugaan mu tepat. Diem aja gimana? Kamu kasih kesempatan aja enggak buat ngomong. Ish menyebalkan!” jawabku ketus namun lembut. “ish jawabnya judes banget ah haha. Duhh jangan ngambek dong sayang. Utuk utuk utuk. Mihihi. Keluar ke balkon gih cepetan!” katanya. “ha ngapain?” meskipun kaget aku tetap berjalan menuju balkon. Pemandangan selanjutnya yang aku lihat adalah. Diaz sedang berdiri di samping mobilnya sambil membawa bunga mawar di tangan kirinya dan handphone nya di tangan kanan. Dan penampilannya keren banget. Sejenak aku tersadar bahwa sambungan telfon masih belum terputus “Happy Anniversary sayang. Inget kan? Hari ini hubungan kita umurnya udah setahun. Selamat ulang tahun juga sayang. Best wishes for you” tuturnya lembut sekali. Suaranya tegas nggak seperti waktu pertama menghubungiku tadi. Senyumnya buat aku meleleh. “sayang jalan yuk! Jangan gitu ah kalo ngeliatin. Aku tau aku ganteng dan kamu terpesona tapi biasa aja ah!” sambungnya membuatku terkejut karna suranya balik seperti awal. Dia kepedean sekali. “sayang kamu kegeeran deh haha. Jalan kemana? Aku belum mandi” jawabku. “yaudah sana cepet mandi. Aku tungguin. Apa sekalian aku mandiin nih?” jawabnya. “ngaco kamu haha yaudah mandi dulu yaaaa” jawabku. Sedetik kemudian sambungan terputus.
Kini aku telah berada di dalam mobil Diaz. Kali ini aku memakai kaos tanpa lengan berwarna hijau dan jeans panjang. Entah aku sendiri tak tau mau dibawa kemana oleh Diaz. “kemana sih? Nggak suka ah kalo dirahasiain gini.” Kataku memulai. “kepo ah. Yang penting kamu kan duduk manis nggak perlu nyetir haha” jawabnya sambil memeletkan lidahnya. Seketika aku cemberut. Diaz bener bener ngebetein. Sepanjang jalan dia nggak ngasih kejelasan. Rupanya dia menangkap perubahan mimik wajahku. “sayang, jangan cemberut gitu dong.” Katanya mengawali percakapanku. Aku tidak menyahuti. Aku justru mengarahkan wajahku menghadap ke jendela. Entahlah, aku jadi ingat masa masa dulu. Rupanya luka itu masih membekas. Akhir akhir ini perasaanku berkata Diaz masih menyayangi Sita, meskipun itu hanya sedikit. Sedikit demi sedikit pula aku juga mulai melihat perubahan sikapnya. Dia jadi sering beralasan ketiduran. Sms lupa di balas. Banyak. Alasan yang dia pakai banyak banget. “sayang, jangan ngambek dong. Iya iya aku ngaku. Kita mau ke pantai sayang.” Ucapnya mengakui. “hah pantai? Asik?” jawabku. Aku tidak sesemangat tadi sekarang. Pantainya memang indah tapi hati aku lagi nggak indah. Seharian kami menghabiskan hari jadi kita dan ulang tahunku  disana.
***
“pagi sayaaaang” sapa Diaz saat aku tengah membaca novel baruku di bangku ku. Kelas ini masih sepi. Hanya ada aku dan Diaz dikelas ini. Aku memang tidak sekelas dengan Diaz. “Pagi” sapaku singkat. Entahlah firasatku tidak enak pagi ini. “ish jawabnya singkat bener, udah nggak sayang nih?” jawabnya. “lagi bete” jawabku sekadarnya. “maaf ya sayang aku semalem ketiduran” katanya menyesal. Aku jadi teringat sms salah kirim nya Diaz. Ada satu sms yang mungkin Diaz nggak maksud kirim ke aku tapi sepertinya malah nyasar ke aku. Isinya Yaudah istirahat ya. Sms itu malah bikin aku tambah kepikiran.

Pulang sekolah langit sudah menangis. Aku coba menghubungi Diaz handphonenya mati terdapat satu pesan masuk. Dari Yuda. Ken bisa jemput Sita nggak? Sita dideket parkiran kejebak hujan. Aku barusan mau jemput tapi hujan deres banget. Aku nggak pikir panjang, aku tau, Yuda dan Diaz pun tau Sita bisa seketika sakit kalo dia kehujanan. Akhirnya aku pergi sambil hujan hujanan demi jemput Sita. Sampai disana aku berusaha supaya dia tidak kehujanan. Aku rela hujan hujanan demi dia karna dia sudah aku anggap saudaraku sendiri. Sampai dikantin sekolah Sita duduk disana sedangkan aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci rok ku yang terkena air kotor saat aku berlari tadi. Aku benar benar basah kuyup. Untungnya Sita tidak basah. Setibanya aku kembali, aku telah mendapati Sita duduk dengan menggunakan jaket yang aku tidak asing, dan dengan seorang lelaki yang kini sedang memeluknya. Ya lelaki tersebut adalah Diaz. Aku mencoba positif thingking. “mungkin Diaz hanya tidak ingin Sita sakit” batinku. Saat aku hampir mendekati mereka terdengar percakapan Sita dan Diaz. “sampai kapan Diaz? Mau sampai kapan aku harus terus sabar? Aku sudah cukup sabar setahun ini demi merelakan sahabatku bahagia” ucap Sita. “maafkan aku” jawab Diaz sambil mempererat pelukannya. “apakah kamu akan meninggalkan Kenzia?” tanya Sita sambil menatap mata Diaz. “secepatnya” Jawab Diaz setelah sebelumnya dia menghela nafas panjang. Bagai tersambar petir saat aku mendengarkan jawaban Diaz. Aku berpura pura tidak mendengar apa apa tadi aku hanya menganggap itu lelucon untuk menghilangkan sepi. “Diaz? Sejak kapan kamu datang?” sapaku sayu. Aku sudah merasakan badanku meriang karna kehujanan. Bukan hanya Sita saja sebenarnya yang bisa sakit seketika jika dia kehujanan tapi aku pun sama dengan Sita. Namun tidak ada yang mengetahui ini, sebisa mungkin aku selalu menahan apabila kehujanan. “KAMU KEMANA AJA? HAH? JAWAB! SITA SAMPAI KETAKUTAN SENDIRIAN GARA GARA HUJAN. NGGAK KASIHAN KAMU SAMA SITA?” Tanyanya dengan nada membentak. Air mataku seketika jatuh. Benarkah? Benarkah Diaz membentakku barusan? Dia lebih mementingkan Sita sahabat pacarnya daripada pacarnya sendiri. “Mungkin percakapan tadi bukan lelucon tetapi sungguhan!” batinku menjerit. Aku hanya bisa menunduk dan meneteskan air mata saat Diaz tak henti henti nya memarahiku karna aku meninggalkan Sita sendirian. “SAHABAT  MACAM APA KAMU! TEGA BIARIN SAHABATNYA SENDIRIAN!” tuduhnya. “Kamu nggak ngerti Diaz” bela ku lemah. Saat itu Yuda datang dengan basah kuyup pula. “sorry Sit aku tadi lama. Thanks Ken mau jemput Sita sampai kamu basah kuyup gini” katanya polos. Sambil melelehkan air mata dan badan yang semakin menggigil aku berucap lemah “nggak papa Yud” sebisa mungkin aku tersenyum kepada Diaz dan Sita tanpa pikir panjang aku segera berlari. Meskipun hujan aku tetap tidak peduli. Yuda mengejarku namun aku berhasil lebih dulu memberhentikan taksi.
***
Ini sudah hari ketujuh aku absen untuk sekolah. Semenjak kejadian itu aku terkena flu parah dan radang tenggorokan. Untungnya disekolah sudah tidak ada belajar mengajar. Hanya tinggal perlombaan saja sambil menunggu rapor selesai. Setelah ke dokter aku dinyatakan typhus. Dokter menyarankan aku untuk istirahat total dirumah sakit. Tidak seorangpun aku ijinkan untuk menjengukku kecuali keluargaku sekalipun orang itu adalah pacarku sendiri, Diaz. Pacar? Masihkah aku bisa disebut pacarnya. Aku juga tidak memperbolehkan keluargaku memberitahu dimana aku dan bagaimana keadaanku. Handphoneku terus saja berbunyi tiap jam nya entah itu sms maupun telfon masuk. Semuanya dari Yuda, Sita dan Diaz. Pesan masukku saja sudah puluhan, isinya pun sama dan dari orang yang sama juga.
Hari ini pembagian rapor juga sekaligus aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Mama datang untuk mengambilnya. Memang aku naik ke tingkat selanjutnya namun hal yang tidak ingin aku dengar adalah bahwa aku satu kelas dengan Diaz dan Sita. Aku juga sekelas dengan Yuda. Setelah semuanya selesai mama datang ke rumah sakit untuk menjemputku pulang. Rupanya mama mengetahui masih ada seraut wajah sedih pada mukaku “sudah dong Ken sedihnya. Mama khawatir sama kamu. Atau kamu mau pindah sekolah saja?” penawaran mama cukup bagus untuk saat ini. Namun aku bukan tipe orang yang mau bersusah susah berada dilingkungan baru dan harus beradaptasi mulai dari awal lagi.
Liburan kenaikan kelas masih tersisa 2 minggu lagi, aku sudah terjangkit penyakit kebosanan setengah mati pada hari kelima liburan ini. Aku masih tidak mengizinkan siapapun datang. Handphone yang selalu aktif pun kini tergeletak di meja belajarku. Aku sering mendapat cerita dari mbak Ina bahwa kadang Diaz yang datang kerumah sendiri, kadang Yuda yang datang ke rumah dengan Sita atau kadang ketiganya bebarengan langsung datang ke rumah. Terbesit rasa bersalah pada Yuda. Bagaimanapun juga dia tidak bersalah. Akhirnya kuputuskan untuk mengaktifkan handphoneku. Tidak beberapa lama handphoneku bergetar, tertera nama Yuda disana. Aku pikir tidak ada salahnya untuk mengangkat telfonnya. “halo” “halo Yud” “apa kabar Ken?  Aku benar benar minta maaf soal kejadian satu bulan yang lalu” “kabarku baik Yud. Sudahlah Yud aku nggak ingin mendengar itu” ada hening sejenak setelah kalimat yang meluncur dari bibirku itu keluar. “aku boleh main kerumah?” “asalkan kamu tidak mengajak mereka aku nggak keberatan” “oke thanks Ken.” Aku tidak menyahuti dan langsung memutus sambungan.
Mbak Ina yang menyiapkan makan siangku mengetuk pintu kamarku. “mbak, mas Yuda dateng. Kata mas Yuda, dia udah janjian sama mbak” “iya mbak suruh tunggu di taman belakang aja bentar lagi aku turun” tidak ada jawaban, Mbak Ina sudah turun pikirku. Bergegas aku turun kebawah dan menuju bagian belakang rumah. “hai” sapaku canggung. Yuda hanya tersenyum. Aku duduk di bangku taman, disebelah Yuda. “sorry for..” kalimat Yuda menggantung begitu saja saat melihatku sudah meneteskan air mata lagi. “maafkan aku” sambung Yuda sambil memelukku. Ini kehebatan Yuda, pelukannya semacam morfin buat aku, pelukannya bisa bikin aku bener bener tenang. Tak ada kata kata lagi setelahnya. Yuda menunggu selesai terisak. “maaf Yud kemeja mu jadi basah” kataku sambil mengeringkan kemejanya dengan tisu setelah aku mulai tenang. Aku melihat ekspresi Yuda yang heran namun sedetik kemudian berubah menjadi senyuman manis. “kamu memang perempuan kuat”
***
to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar