Minggu, 22 September 2013

Persahabatan VS Cinta

“ken kamu kenapa?” pertanyaan yang terus dilontarkan oleh Yuda sahabatku tatkala melihatku menangis sendirian di kantin sekolah. Aku masih terus terisak mana kala Yuda sudah duduk disampingku. Entahlah tak perlu bertutur pun rasanya Yuda mengerti aku membutuhkan ketenangan. Dipeluknya tubuh rapuhku sambil membisikkan “tenanglah Ken. Kamu gadis kuat”. Kalimat tersebut menyadarkanku. “Yud, aku lelah, aku nggak sanggup terus terusan bohongi perasaanku. Aku sayang Diaz” kataku lemah. “Oh aku mengerti. Sudah tenanglah dahulu. Kamu lebih dewasa untuk mengambil keputusan apabila dalam kondisi tenang” jawab Yuda menguatkanku. “kau harus berjanji satu hal. Tetap rahasiakan ini dari Diaz dan Sita” “Baiklah aku berjanji”

Tak lama aku mendengar sosok lain datang menghampiri ku. Ya lebih tepatnya dia adalah Diaz yang datang menghampiri kami. “Yud, Kenzia kenapa?” pertanyaan sederhana namun cukup melukaiku. Aku lepaskan pelukan Yuda dari tubuhku. Mengusap air mataku. Bagaikan tak cukup bagiku sebuah pertanyaan indah terlontar dari mulut manisnya yang menusuk hati. “Ken kau tak apa kan? Baiklah untuk menghiburmu maukah kau menemaniku berbelanja untuk surprise party Sita? Seminggu lagi dia ulang tahun bukan?” bagai tersambar petir rasanya. Yuda menatapku dengan tatapan khawatir. Ingin sekali menolak namun Diaz memotong lagi “oh ayolaaah tak ada alasan bagimu untuk menolak kau kan sahabatnya. Aku butuh bantuanmu. Besok jam 10 pagi aku akan menjemputmu. Ok see you tomorrow Ken” kemudian sosoknya semakin menjauh dan akhirnya lenyap. Tak terasa butiran air mataku jatuh kembali. “lihatlah Yud betapa dia sangat menyayangi Sita” “Sudahlah ambil positifnya, kamu akan jalan dengannya besok”
***
Pagi ini mataku menunjukkan perubahan warna. Bagaimana tidak semalam suntuk aku meneteskan air mata. Tak habis pikir rasanya bagaimana bisa aku jatuh hati pada lelaki idaman sahabatku. Belum ada ikatan apa apa memang antara mereka. Namun yang aku tau Sita mencintai Diaz. Diaz mencintai Sita. Hanya aku yang cintanya sebelah tangan. Yang jelas Sita dan Diaz tidak tau kalo cinta mereka tidak sebelah tangan. Saat aku benar benar terbangun jam beker ku menunjukkan pukul 8 tepat. Secepat mungkin aku bangkit dari kasurku dan turun ke dapur. Aku kompres mataku agar tidak terlalu kentara. . Tidak kupoles sedikitpun wajah sayuku. Rambutku kukucir seadanya. Pakaiankupun hanya t-shirt biru muda yang kupadukan dengan cardigan putih dan dengan rok putih selutut. Pukul 10 tepat terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar rumah, enggan sekali rasanya untuk keluar namun pada akhirnya aku keluar juga. Segera aku menghampiri Diaz diluar.

“kamu mau apa? Aku yang bayar deh hehe” tampaknya kamu tulus mengucapkan itu. Perasaanku bilang “kamu memang cowok pengertian” namun logika ku turut berbicara “bukankah kamu berkata begitu karena kamu ingin balas budi? Karna aku telah menemanimu seharian untuk mencari perlengkapan surprise party sahabatku?” . Sejenak aku tersadar dari lamunanku karena guncangan lembut di pundakku. “nggak perlu. Apakah sudah semua?” . “ya. Hmm apakah kamu lapar? Perutku protes juga” “tidak. Aku tidak lapar.” Aku melihat raut wajah kecewa darinya. Bukan maksudku menolak apa yang ingin dia berikan kepadaku hanya saja aku tidak ingin menyakiti hatiku sendiri terus menerus. Cukup menemani dia menyiapkan surprise party ini saja. “Ken? Kenza. Kamu nggak papa kan?” tersadar dari lamunanku saat tangan kekarnya menyentuh bahuku. “tidak. Aku tidak apa apa. Maaf, bukan maksudku untuk menolak makan denganmu. Maafkan aku” kataku tulus sambil merundukkan kepalaku  “oh tak apa. Justru aku yang meminta maaf mungkin kamu kelelahan karna menemaniku hari ini. Baiklah akan kuantar kau pulang sekarang” .

Saat di mobil aku tidak lagi paham apa yang dibacarakan oleh orang yang berada disebelahku. Sejenak kualihkan pandanganku padanya, memperhatikan setiap lekuk wajahnya. Perasaan sesak itu kembali menyerbu masuk kalbuku manakala teringat senyum yang tersirat bahagia untuk sahabatku itu. Memanglah pantas sahabatku mendapatkannya begitu pula sebaliknya. Rasanya tak sopan apabila aku bersanding dengan Diaz. Entahlah tak terasa mataku telah menggenang kembali aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Biarlah, biarlah sahabatku bahagia.

“Ken kau baik baik saja?” tanyanya yang mengagetkanku. Tiba tiba saja saat aku tersadar mobil telah menepi.  Aku tidak mengetahui bahwa diam diam dia memperhatikanku menangis menghadap ke luar jendela. “cewek cantik nggak baik nangisnya di pendam sendiri. Apalagi nangisnya ngadep keluar. Malu ah banyak yang ngeliatin. Mendingan ceritain aja.” Kalimat yang indah sebenenarnya tapi untuk yang saling menyayangi. Namun disini, diantara kita hanya aku yang berjuang tanpa hasil. Aku masih terpaku tak percaya Diaz bisa mengeluarkan kalimat tersebut untukku. “ya nggak papa sih kalo nggak mau cerita. Aku nggak maksa.” Aku masih belum menanggapi ucapannya. Aku masih mencerna setiap kata yang dilontarkannya. “tapi kapanpun kamu butuh sandaran bahu atau dada punya aku bisa kamu pakai kok. Sepuas hati kamu” tercengang aku dengan kalimat yang barusan keluar dari mulutnya. Menoleh kepadanya sambil bercucuran air mata. Dengan lembut Diaz menyeka air mataku. Membawa ragaku kedalam peluknya. Hanya sepersekian detik tubuhku ada dipelukannya kemudian kulepas dekapannya dari tubuh rapuhku. Entahlah aku tidak ingin aku semakin terlena oleh tindakan semunya. “kenapa?” “antarkan aku pulang Diaz” kataku. “baik. Tapi jangan bersedih lagi. Ku mohon padamu” jawabnya lembut sambil mengusap lembut air mataku.
***
Jam beker menunjukkan pukul 9 pagi. Entahlah pukul berapa aku terlelap. Setelah diantarkan pulang oleh Diaz pada saat itu aku langsung masuk ke kamarku. Tak henti hentinya aku menangisi Diaz. Mungkin aku bodoh menangisi orang yang jelas jelas hanya mempermainkan perasaanku. Lagi lagi aku menemui perubahan warna pada mataku. Beberapa hari ini aku telah menyia nyiakan air mataku.  Bergegas aku mandi aku ingin menenangkan diri setelah ini.

Mobil sudah tiba di tujuan saat jam tanganku menunjukkan pukul 11. Ya aku lebih menyukai pemandangan untuk menenangkan diri. Cukup memejamkan mata dan menghirup udara disana sudah cukup membuatku jauh lebih tenang. Sekarang aku telah berada di pinggir sebuah tebing yang dibawahnya terdapat danau. Indah sekali. Pukul 12 aku sudah bersiap untuk pulang. Ku lihat handphone sudah ada 20 panggilan tak terjawab dan 12 pesan masuk. Aku memang lupa membawa handphoneku. Sewaktu sampai tadi aku meninggalkannya di dalam mobil. Aku cek keseluruhannya berupa ajakan untuk berenang nanti sore. Tapi.. tunggu.. ada pesan dari Diaz. Jangan lupa makan. Aku tau kamu pasti bakal lupa makan J. Benarkah ini Diaz yang mengirimkannya? Kembali air mataku bercucuran. Aku tidak ingin bersusah payah menghancurkan hatiku lagi dengan membalas sms Diaz. Segera aku beranjak untuk menuju ke tempat janjian dengan Sita dan Yuda.

Sampai disana ternyata aku hanya mendapati Sita dan Diaz duduk berdua. B e r d u a. Memang tempat janjian untuk berenang ini sedikit tertutup. Aku bahkan tidak tau bahwa Diaz akan turut bergabung. Aku tidak ingin menganggu kemesraan mereka. Akhirnya aku memilih ke tempat yang bisa dibilang kantin namun agak lebih mini. Aku hanya menunggu Yuda datang sambil meneguk jus melon kesukaanku. Yuda datang saat minumanku akan benar benar habis. Yuda telah menghampiri Sita dan Diaz. Aku segera beranjak menghampiri mereka. “Ken, kenapa gak gabung ke sana?” Yuda dengan polosnya menanyakan hal itu padaku. “aku haus. Aku ke kantin untuk sekedar membasahi tenggorokanku. Lagi pula aku tak ingin mengganggu Sita dan Diaz” kujawab dengan sejujurnya sambil menyunggingkan senyum yang dipaksa. Yuda cepat tanggap dengan maksudku, dia tidak bertanya lagi.


Kali ini yang turun untuk berenang adalah Yuda,Sita dan Diaz. Aku tidak turun karena aku memang tidak dalam mood untuk berenang. Kini aku sedang mengamati kegiatan mereka. Disana sedang terjadi kegiatan Diaz sedang mengajari Sita berenang gaya bebas. Yuda dan Diaz memang sudah jago dalam berenang. Memang, dari aku, Sita, Diaz, Yuda yang paling lemah dalam hal renang hanya Sita. Mereka romantis. Sepertinya Yuda melihat kesedihanku. Segera dia naik kepermukaan. “sudahlah Ken, aku mengerti perasaanmu. Nggak selamanya yang ingin kita punyai harus kita miliki” tuturnya sambil mengeringkan badannya dengan handuk. “aku faham sekarang. Mungkin sudah saatnya pergi.” Ucapku lirih dalam hati. Pukul 5 mereka telah selesai berbenah. “makan dulu yuk!” kali ini Sita membuka mulutnya. Diaz dan Yuda mengiyakan ajakan Sita berbeda denganku. “lain kali deh Sit, udah mual pengen muntah rasanya. Kalian bertiga ajadeh aku duluan balik” sahutku. “kamu sakit Ken?” kini Diaz yang angkat bicara. “nggak. Mungkin aku hanya kecapaian biasa” jawabku. Aku menatap Yuda. Aku yakin Yuda telah faham alasan utama ku memilih untuk tidak turut bergabung dengan mereka.
TO BE CONTINUE....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar