“ken kamu kenapa?” pertanyaan yang terus dilontarkan oleh
Yuda sahabatku tatkala melihatku menangis sendirian di kantin sekolah. Aku
masih terus terisak mana kala Yuda sudah duduk disampingku. Entahlah tak perlu
bertutur pun rasanya Yuda mengerti aku membutuhkan ketenangan. Dipeluknya tubuh
rapuhku sambil membisikkan “tenanglah Ken. Kamu gadis kuat”. Kalimat tersebut
menyadarkanku. “Yud, aku lelah, aku nggak sanggup terus terusan bohongi
perasaanku. Aku sayang Diaz” kataku lemah. “Oh aku mengerti. Sudah tenanglah
dahulu. Kamu lebih dewasa untuk mengambil keputusan apabila dalam kondisi
tenang” jawab Yuda menguatkanku. “kau harus berjanji satu hal. Tetap rahasiakan
ini dari Diaz dan Sita” “Baiklah aku berjanji”
Tak lama aku mendengar sosok lain datang menghampiri ku. Ya
lebih tepatnya dia adalah Diaz yang datang menghampiri kami. “Yud, Kenzia
kenapa?” pertanyaan sederhana namun cukup melukaiku. Aku lepaskan pelukan Yuda
dari tubuhku. Mengusap air mataku. Bagaikan tak cukup bagiku sebuah pertanyaan
indah terlontar dari mulut manisnya yang menusuk hati. “Ken kau tak apa kan?
Baiklah untuk menghiburmu maukah kau menemaniku berbelanja untuk surprise party
Sita? Seminggu lagi dia ulang tahun bukan?” bagai tersambar petir rasanya. Yuda
menatapku dengan tatapan khawatir. Ingin sekali menolak namun Diaz memotong
lagi “oh ayolaaah tak ada alasan bagimu untuk menolak kau kan sahabatnya. Aku
butuh bantuanmu. Besok jam 10 pagi aku akan menjemputmu. Ok see you tomorrow
Ken” kemudian sosoknya semakin menjauh dan akhirnya lenyap. Tak terasa butiran
air mataku jatuh kembali. “lihatlah Yud betapa dia sangat menyayangi Sita”
“Sudahlah ambil positifnya, kamu akan jalan dengannya besok”
***
Pagi ini mataku menunjukkan perubahan warna. Bagaimana tidak
semalam suntuk aku meneteskan air mata. Tak habis pikir rasanya bagaimana bisa
aku jatuh hati pada lelaki idaman sahabatku. Belum ada ikatan apa apa memang
antara mereka. Namun yang aku tau Sita mencintai Diaz. Diaz mencintai Sita.
Hanya aku yang cintanya sebelah tangan. Yang jelas Sita dan Diaz tidak tau kalo
cinta mereka tidak sebelah tangan. Saat aku benar benar terbangun jam beker ku
menunjukkan pukul 8 tepat. Secepat mungkin aku bangkit dari kasurku dan turun
ke dapur. Aku kompres mataku agar tidak terlalu kentara. . Tidak kupoles
sedikitpun wajah sayuku. Rambutku kukucir seadanya. Pakaiankupun hanya t-shirt
biru muda yang kupadukan dengan cardigan putih dan dengan rok putih selutut.
Pukul 10 tepat terdengar bunyi klakson mobil dari arah luar rumah, enggan
sekali rasanya untuk keluar namun pada akhirnya aku keluar juga. Segera aku
menghampiri Diaz diluar.
“kamu mau apa? Aku yang bayar deh hehe” tampaknya kamu tulus
mengucapkan itu. Perasaanku bilang “kamu memang cowok pengertian” namun logika
ku turut berbicara “bukankah kamu berkata begitu karena kamu ingin balas budi?
Karna aku telah menemanimu seharian untuk mencari perlengkapan surprise party
sahabatku?” . Sejenak aku tersadar dari lamunanku karena guncangan lembut di
pundakku. “nggak perlu. Apakah sudah semua?” . “ya. Hmm apakah kamu lapar?
Perutku protes juga” “tidak. Aku tidak lapar.” Aku melihat raut wajah kecewa
darinya. Bukan maksudku menolak apa yang ingin dia berikan kepadaku hanya saja
aku tidak ingin menyakiti hatiku sendiri terus menerus. Cukup menemani dia
menyiapkan surprise party ini saja. “Ken? Kenza. Kamu nggak papa kan?” tersadar
dari lamunanku saat tangan kekarnya menyentuh bahuku. “tidak. Aku tidak apa apa.
Maaf, bukan maksudku untuk menolak makan denganmu. Maafkan aku” kataku tulus
sambil merundukkan kepalaku “oh tak apa.
Justru aku yang meminta maaf mungkin kamu kelelahan karna menemaniku hari ini.
Baiklah akan kuantar kau pulang sekarang” .
Saat di mobil aku tidak lagi paham apa yang dibacarakan oleh
orang yang berada disebelahku. Sejenak kualihkan pandanganku padanya, memperhatikan
setiap lekuk wajahnya. Perasaan sesak itu kembali menyerbu masuk kalbuku
manakala teringat senyum yang tersirat bahagia untuk sahabatku itu. Memanglah
pantas sahabatku mendapatkannya begitu pula sebaliknya. Rasanya tak sopan
apabila aku bersanding dengan Diaz. Entahlah tak terasa mataku telah menggenang
kembali aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Biarlah, biarlah sahabatku
bahagia.
“Ken kau baik baik saja?” tanyanya yang mengagetkanku. Tiba tiba
saja saat aku tersadar mobil telah menepi.
Aku tidak mengetahui bahwa diam diam dia memperhatikanku menangis
menghadap ke luar jendela. “cewek cantik nggak baik nangisnya di pendam sendiri.
Apalagi nangisnya ngadep keluar. Malu ah banyak yang ngeliatin. Mendingan ceritain
aja.” Kalimat yang indah sebenenarnya tapi untuk yang saling menyayangi. Namun
disini, diantara kita hanya aku yang berjuang tanpa hasil. Aku masih terpaku
tak percaya Diaz bisa mengeluarkan kalimat tersebut untukku. “ya nggak papa sih
kalo nggak mau cerita. Aku nggak maksa.” Aku masih belum menanggapi ucapannya.
Aku masih mencerna setiap kata yang dilontarkannya. “tapi kapanpun kamu butuh
sandaran bahu atau dada punya aku bisa kamu pakai kok. Sepuas hati kamu”
tercengang aku dengan kalimat yang barusan keluar dari mulutnya. Menoleh
kepadanya sambil bercucuran air mata. Dengan lembut Diaz menyeka air mataku. Membawa
ragaku kedalam peluknya. Hanya sepersekian detik tubuhku ada dipelukannya
kemudian kulepas dekapannya dari tubuh rapuhku. Entahlah aku tidak ingin aku
semakin terlena oleh tindakan semunya. “kenapa?” “antarkan aku pulang Diaz”
kataku. “baik. Tapi jangan bersedih lagi. Ku mohon padamu” jawabnya lembut
sambil mengusap lembut air mataku.
***
Jam beker menunjukkan pukul 9 pagi. Entahlah pukul berapa
aku terlelap. Setelah diantarkan pulang oleh Diaz pada saat itu aku langsung
masuk ke kamarku. Tak henti hentinya aku menangisi Diaz. Mungkin aku bodoh
menangisi orang yang jelas jelas hanya mempermainkan perasaanku. Lagi lagi aku
menemui perubahan warna pada mataku. Beberapa hari ini aku telah menyia nyiakan
air mataku. Bergegas aku mandi aku ingin
menenangkan diri setelah ini.
Mobil sudah tiba di tujuan saat jam tanganku menunjukkan
pukul 11. Ya aku lebih menyukai pemandangan untuk menenangkan diri. Cukup
memejamkan mata dan menghirup udara disana sudah cukup membuatku jauh lebih
tenang. Sekarang aku telah berada di pinggir sebuah tebing yang dibawahnya
terdapat danau. Indah sekali. Pukul 12 aku sudah bersiap untuk pulang. Ku lihat
handphone sudah ada 20 panggilan tak terjawab dan 12 pesan masuk. Aku memang
lupa membawa handphoneku. Sewaktu sampai tadi aku meninggalkannya di dalam
mobil. Aku cek keseluruhannya berupa ajakan untuk berenang nanti sore. Tapi..
tunggu.. ada pesan dari Diaz. Jangan
lupa makan. Aku tau kamu pasti bakal lupa makan J. Benarkah
ini Diaz yang mengirimkannya? Kembali air mataku bercucuran. Aku tidak ingin
bersusah payah menghancurkan hatiku lagi dengan membalas sms Diaz. Segera aku beranjak untuk menuju ke
tempat janjian dengan Sita dan Yuda.
Sampai disana ternyata aku hanya mendapati Sita dan Diaz
duduk berdua. B e r d u a. Memang tempat janjian untuk berenang ini sedikit
tertutup. Aku bahkan tidak tau bahwa Diaz akan turut bergabung. Aku tidak ingin
menganggu kemesraan mereka. Akhirnya aku memilih ke tempat yang bisa dibilang
kantin namun agak lebih mini. Aku hanya menunggu Yuda datang sambil meneguk jus
melon kesukaanku. Yuda datang saat minumanku akan benar benar habis. Yuda telah
menghampiri Sita dan Diaz. Aku segera beranjak menghampiri mereka. “Ken, kenapa
gak gabung ke sana?” Yuda dengan polosnya menanyakan hal itu padaku. “aku haus.
Aku ke kantin untuk sekedar membasahi tenggorokanku. Lagi pula aku tak ingin
mengganggu Sita dan Diaz” kujawab dengan sejujurnya sambil menyunggingkan
senyum yang dipaksa. Yuda cepat tanggap dengan maksudku, dia tidak bertanya
lagi.
Kali ini yang turun untuk berenang adalah Yuda,Sita dan
Diaz. Aku tidak turun karena aku memang tidak dalam mood untuk berenang. Kini
aku sedang mengamati kegiatan mereka. Disana sedang terjadi kegiatan Diaz
sedang mengajari Sita berenang gaya bebas. Yuda dan Diaz memang sudah jago
dalam berenang. Memang, dari aku, Sita, Diaz, Yuda yang paling lemah dalam hal
renang hanya Sita. Mereka romantis. Sepertinya Yuda melihat kesedihanku. Segera
dia naik kepermukaan. “sudahlah Ken, aku mengerti perasaanmu. Nggak selamanya
yang ingin kita punyai harus kita miliki” tuturnya sambil mengeringkan badannya
dengan handuk. “aku faham sekarang. Mungkin sudah saatnya pergi.” Ucapku lirih
dalam hati. Pukul 5 mereka telah selesai berbenah. “makan dulu yuk!” kali ini
Sita membuka mulutnya. Diaz dan Yuda mengiyakan ajakan Sita berbeda denganku.
“lain kali deh Sit, udah mual pengen muntah rasanya. Kalian bertiga ajadeh aku
duluan balik” sahutku. “kamu sakit Ken?” kini Diaz yang angkat bicara. “nggak.
Mungkin aku hanya kecapaian biasa” jawabku. Aku menatap Yuda. Aku yakin Yuda telah
faham alasan utama ku memilih untuk tidak turut bergabung dengan mereka.
TO BE CONTINUE....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar