Selasa, 17 Desember 2013

Sebuah Kisah yang Salah

Berawal dari takdir Tuhan yang membawa kita pada satu pertemuan yang berujung perkenalan. Perkenalan yang cukup unik, tanpa menyebutkan nama justru saling menghina. Kamu tidak menyukaiku karna tambahan waktu belajar di bimbingan belajar mu terganggu karna aku menjadi murid baru disitu, ya aku berisik. Sedangkan aku tidak menyukaimu karna kamu tidak memberiku kesempatan. Di setiap kebisingan kelas yang tercipta kamu slalu menyalahkan aku. Namun justru karna inilah kita menjadi dekat. Kita sering duduk bersebelahan, untuk bertukar pikiran ataupun sekedar berbagi ilmu di bidang yang kita tidak pahami. Aneh bukan? berawal dari jengkel berubah menjadi dekat.

Seiring waktu berjalan, pertemanan kita ini mulai dianggap tidak biasa oleh orang lain. Sebenarnya apa yang 'tidak biasa' dari pertemanan kita ini? kita hanya duduk bersebelahan untuk tujuan yang sama; belajar. Terkadang aku membantunya untuk membacakan tulisan di papan yang kurang jelas. Aku dan dia sama sama tau, matanya minus tapi dia tetep menolak untuk memakai kacamata. Terkadang juga dia meminta bantuanku untuk mencatat catatan di papan karna tulisannya benar benar kecil, aku yang normal saja harus memicingkan mata apalagi dia?. Apa menurut kalian ada yang tidak biasa?

Mana mungkin hal itu terjadi, kamu mempunyai seorang pacar yang sudah hampir dua tahun menemaninya. Bahkan kamu rela masuk ke sekolah yang sama dengan kekasihmu itu. Demi pacarmu. Anggapan tidak biasa ini setahap demi setahap mulai mengganggu. Ada yang salah dengan otakku, seharusnya aku bersikap biasa saja tapi reaksinya berlawanan. Sampai suatu ketika, karna suatu hal pertemanan kita renggang. Kamu memilih duduk didepan. Kamu mulai tidak membutuhkan bantuanku lagi untuk membacakan tulisan kecil. Seingatku kamu mulai meminta bantuan temanku untuk membacakan tulisan kecil yang ada di papan. Tak ada lagi obrolan yang membangkitkan tawa. Kita sudah berbeda. Mungkin ini salahku, yang terlalu termakan anggapan orang. Harusnya perasaan itu tidak pernah tumbuh.

Kini kita tak lagi satu kelas, kita hanya bertemu seminggu sekali. Tak pernah ada sapaan baik dari mu maupun dariku saat kita berpapasan atau bertemu. Entahlah, kalau ditilik di setahun yang lalu rasanya berbanding terbalik. Kini juga, kamu sudah putus dengan pacarmu. Menyenangkan? iya, tapi tak cukup membahagiakan.

Akhirnya kita kembali ke titik dimana kita belum benar benar saling mengenal, namun sedikit berbeda. kamu tetap tidak menyukaiku namun aku tidak membencimu. Terdengar tidak imbang namun ini kenyataannya. Setahun lebih menunggu, harapanku kita hanya ingin seperti dulu. Namun inilah kebodohanku terlalu membangga-banggakan "kita" dalam cerita ini yang tidak ada artinya apa apa buatmu.

Akhirnya kamu menemukan pengganti pasanganmu yang lalu, yang lebih baik dari mantan kekasihmu. Harusnya dari awal harus mulai disadari perasaan ini tak akan pernah berbalas. Harusnya juga aku paham ini hanyalah sebuah kisah yang salah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar